Jumat, 30 April 2010

jeritan rakyat...

Ingin tahu kisahnya?? Bacalah.

1 Juli 2005
Pasar pagi, atau tepatnya dinamai pasar pagi sekali, sudah mulai. Sekarang jam tiga, dan tidak ada yang kulihat kecuali kegigihan. Aku memandangi dengan penat. Sendiri di sini, memicingkan mata menatapi mereka dibantu cahaya berpuluh petromaks.
Kulirik ke samping, seorang wanita tua penjual kangkung. Menggelar beberapa ikat kangkung di tikar lusuh. Di sebelahnya ada keranjang bambu yang sangat besar.
“Maaf mengganggu. Saya boleh tanya?”
Keningnya berkerut tapi matanya masih terlihat ramah. “Mau tanya apa, Mas?”
“Dari mana ibu bawa kangkung-kangkung ini?”
“Oh, kangkung ini dari juragan dekat rumah. Ibu cuma jualin.”
“Rumah Ibu dimana?”
“Jauh, Nak. Ada tiga kilo dari sini.”
“Tiga kilo? Ibu naik apa?”
“Jalan kaki. Ibu kuat?”
“Sudah biasa kok. Lagian kalau ndak begini, Ibu mau makan apa?”
“Lho memang sehari untung berapa, Bu?”
“Kalau lagi bagus, Ibu dapat untung tujuh ribu setelah dipotong sama juragan. Tapi rata-rata tiga ribu.”
Aku termangu sejenak, jadi ibu tua ini jalan tiga kilo pagi-pagi buta sambil menggendong keranjang besar, hanya untuk mengais uang tiga ribu rupiah? Ini luar biasa, fantastis. Beliau mungkin orang paling rajin di dunia.
Aku tergelitik untuk bertanya lagi.
“Ibu tidak pernah merasa kekurangan?”
“Kadang-kadang, apalagi kalau sadar Ibu ini hidup miskin.”
Kembali aku termangu, sesaat aku sadar kalau itu mungkin jawaban paling jujur yang pernah aku dengar.
Detik berikutnya dua ikat kangkung berpindah ke dalam tasku diiringi senyumnya.


5 Juli 2005
Kali ini di sebuah bukit kapur, puluhan kepala terlihat di lembah sana. Tapi ada satu yang menarik. Seorang wanita. Mungkin baru dua puluh lima tahun, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. Dengan rajin ia memecahkan batu dan diisikan ke keranjang di sebelahnya.
Kudekati, dia sejenak menghapus keringatnya. Padahal pagi belum terlalu panas. Ternyata dia cukup ramah, wajahnya sejenak jadi bersinar lucu saat bicara.
“Jadi, umurnya baru dua puluh tiga?”
“Iya. Memang debu kapur sama panas berlebih nggak bagus buat kulit, pigmen bisa berkurang, flek hitam makin bertambah, kulit bisa keriput lebih cepat. Bahasa ilmiahnya, penuaan dini, ya?”
Aku melongo, dia makin tersenyum.
“Yah, jelek-jelek begini saya sempat masuk sekolah perawat. Hanya nggak selesai.”
“Oh, kenapa?”
“Nggak ada biaya. Bapak saya cuma tukang angkut batu kapur, terus jatuh dan meninggal di gunung kapur ini. Adik saya banyak, ibu juga sakit-sakitan, jadi beginilah...”
Mata itu, tegar sekali sepanjang cerita. Tidak ada raut kesedihan sama sekali.
“Mbak nggak merasa risih kerja begini?”
“Nggak, yang penting saya bisa terus ikhtiar. Siapa tahu ada nasib lain.”
“Maksudnya?”
“Pokoknya saya jalani apa yang ada di depan mata, seterusnya saya serahkan sama yang di Atas.”
“Mbak bisa optimis begitu?”
“Wah, saya juga heran kok bisa bilang begini, ya.”
“Lho?”
Kami tertawa bersama. Suatu fragmen yang luar biasa, seorang miskin bisa tertawa tanpa mempertanyakan nasibnya.
Kututp notesku yang masih kosong, belum ada yang bisa kucatat. Aku masih terlalu takjub.

7 Juli 2005
Sebuah lampu merah di perempatan, berdebu, diiringi derap sandal pengamen dan pedagang asongan. Kupanggil seorang bocah kecil dengan sebuah kotak tersandang di dada.
“Permen ini berapa?” kuambil langsung permen itu dari kotaknya.
“Lima ratus.”
Kulihat bocah kecil ini membereskan kotak dagangan yang sudah hampir kosong.
“Wah, sudah mau habis?”
“Iya, lumayan.”
Kusentuh bahunya yang akan berbalik, “sini dulu duduk, mau diwawancarai nggak?”
“Nggak. Aku harus ngasih Emak uang buat belanja.”
“Lho, memang kamu yang cari uang belanja?” Anak itu mengangguk sambil melangkah pergi, kujajari langkahnya. Aku belum dapat bahan artikel.
“Rumah kamu dimana?”
“Di sana, di belakang pasar. Mas wartawan?”
Aku mengangguk, “Iya, lagi cari berita.” Kutatap matanya, dia berbinar.
“Kalau sudah besar saya juga mau jadi wartawan.”
“Bagus, kamu sekolah?”
“Kelas empat.”
“Eh, kamu dagang sehari bisa dapat berapa?”
“Paling juga sepuluh ribu, belum dipotong uang belanja dan makan.”
“Punya keinginan berhenti jadi pedagang asongan?”
“Nggak tahu.”
“Kok nggak tahu?”
“Kata Emak, orang miskin jangan banyak keinginan, mendingan terima apa adanya. Jadi, saya nggak berani ngarepin berhenti dagang permen.”
Ah, jawabannya begitu polos.

8 Juli 2005, 13.15 WIB
Kulirik jam tangan. Sampai jam segini aku belum cukup materi, deadline artikel ini besok. Aku harus cepat mendatangi narasumber yang sudah di hubungi. Saat berpikir begitu, sebuah becak melintas.
“Becak!”
“Kemana, Mas?”
“LP.”
Di dalam aku mengambil HP, kutekan nomor redaksi, tak lama tersambung dan sebuah suara menjawab.
“Koran Warta Warga, selamat siang.” Aku kenal betu suara itu, suara Irma.
“Irma, ini Hendi cuma mau gecek, sudah buat janji belum sama LP Cibiru?”
“Sebentar ya.”
Tak lama kemudian,
“Sudah tuh, jam setengah dua.”
“Iya, makasih.”
Kumatikan HP dan kulirik jam tangan. Lima belas menit lagi.
“Bisa lebih cepat, Pak?”
Tanpa banyak bicara tukang becak itu mempercepat kayuhannya. Keringatnya mengalir deras, lama-lama aku kasihan juga.
“Sudah lama jadi tukang becak?”
“Baru... baru dua puluh tahun.”
Aku tersenyum sendiri,
“Wah, sudah jadi tukang becak senior. Kalau narik, dari jam berapa?”
“Jam lima shubuh.”
“Pulangnya?”
“Paling jam sepuluh malam.”
“Dua puluh tahun terus begitu?”
“Iya, kenapa?”
“Kok Bapak kuat?”
“Nggak tahu, sudah dari sananya kali,” dia terus mengayuh becaknya dengan cepat.
Aku mengangkat bahu, rajin betul bapak ini, pikirku. Tak lama becak itu berhenti.
“LP.”
“Berapa ongkosnya?”
“Lima ribu.”
Kusodorkan uang padanya, segera dia terima.


8 Juli 2005, 13.48 WIB
Kubuka notesku untuk mencatat setelah kuajukan beberapa pertanyaan.
“Ya, baru tiga tahun tepatnya.”
“Dulu ditahan kenapa?”
“Merampok. Waktu itu lagi perlu biaya buat beli obat. Istri saya sakit.”
“Sekarang istri Bapak bagaimana?”
“Kabar terakhir, sakitnya makin parah.”
“Lho, memang nggak ada keluarga yang lain?”
Lelaki itu menggeleng, aku terdiam.
“Terakhir itu kapan?”
“Dua tahun yang lalu.”
“Wah, sudah lama, ya. Memang sebelumnya kerja apa?”
“Saya cuma kuli angkut pasar.”
Kutatap lelaki di depanku, perawakannya memang kecil, kulitnya hitam. Tidak ada tampang garong sama sekali.
Aku bertanya dengan hati-hati, “Apa Bapak merasa miskin?”
“Jelas dong! Kalau saya kaya, istri saya pasti bisa saya obati. Pasti saya bisa bayar dokter yang mahal, dokter yang hebat!”
“Apa Bapak tahu kenapa miskin?”
“Nggak tahu.”
“Jadi, Bapak nggak pernah cari tahu?”
“Buat apa? Dicari juga tetap begini, kan?”
“Tapi...”
“Eh, kamu ini katanya wartawan. Mau kamu apa, sih?” Dia mendadak emosi. Geram. Matanya melotot.
“Waduh. Maaf, saya cuma cari bahan untuk tema kemiskinan.” Aku agak gugup melihat reaksinya.
Suaranya meninggi, “Kamu gila! Miskin, ya miskin. Malah ditanya!”
“Ma... maaf!” Aku buru-buru mengurungkan niat untuk tidak membuatnya lebih kalap.
Dari jauh terdengar dia masih teriak-teriak.
“Orang miskin nggak perlu koran, orang miskin nggak perlu berita, perlunya duit!”

8 Juli 2005, 14.20 WIB
Sudah lima orang, kalau aku tidak bisa menyimpulkan penyebabnya, mana bisa cari penanggulangannya? Orang-orang tadi semuanya pekerja keras, waktu mereka hampir dua puluh empat jam untuk cari uang, tapi mereka masih miskin.
Pusing! Pusing! Pusing!
Mendadak terlintas satu pikiran, segera kuhubungi kantor redaksi.
“Halo, Irma! Tolong hubungi nomor perusahaan ini, nama presdirnya kamu pasti tahu. Buat janji wawancara besok pagi!”
“Mm, oke. Lima belas menit lagi aku telepon.”
Aku menunggu sampai HP-ku berdering.
“Bagaimana?”
“Bisa, tapi ada satu reporter yang janji wawancara juga.”
“Nggak apa-apa, thanks.”

9 Juli 2005
“Menurut Bapak sendiri, sebagai presdir perusahaan multinasional, bahkan termasuk petinggi di negara ini, bagaimana masalah sebenarnya?”
“Pertanyaan itu sangat mendesak. Rupanya ada tipe wartawan yang suka mendesak. Tapi tidak apa-apa, saya suka didesak seperti ini. Dengan didesak saya akan menjawab dengan terburu-buru sehingga bisa saja lidah saya keseleo lalu salah ucap. Akhirnya kesalahan saya bisa Anda muat di kolom paling depan. Begitu, kan?” Ha ha ha...
Aku terdiam, recorder di tanganku mulai licin, keringat mulai menyusup dari balik pori kulit gelapku.
“Tapi, saya selalu berpikir dulu sebelum menjawab, sebab semua jawaban saya mungkin saja menimbulkan kekacauan, atau mungkin menimbulkan kedamaian di luar sana. Jadi tolong diulangi lagi pertanyaan Anda tadi, agar saya tidak salah menjawab.”
“Bagaimana menurut Bapak?”
“Ah masa itu? Tadi pertanyaannya lebih panjang.”
“Bapak yang petinggi, banyak koneksi, termasuk lima besar orang terkaya di negeri ini. Bagaimana masalah sebenarnya?”
“Kita bicara masalah apa tadi?”
“Kemiskinan bangsa. Apa penyebabnya?”
“Begini,” dia mendehem sedikit “ini masalah serius. Hampir tidak ada negara yang bisa lolos dari masalah ini. Bahkan negara super power sekalipun. Apalagi negara seperti kita ini. Uang memang jadi minyak roda kehidupan, itu yang dicari-cari orang kelas bawah supaya jadi kelas atas. Dan itu juga yang dipertahankan orang kelas atas supaya tetap di atas.”
“Apakah ada...?”
“Lho, kok tanya terus. Negara ini penuh orang-orang miskin karena rakyatnya malas-malas. Kalau mereka tidak malas pasti mereka semua sudah kaya. Jelas kan? Rakyat malas! Itu jawabannya.” Ha ha ha...
Aku mengangkat alis, jawaban yang tidak terduga dari seorang presdir sekaligus petinggi negara. Rakyat malas. Seharusnya si gendut ini lihat sendiri keluar, ke pasar pagi, ke bukit kapur, ke lampu merah, ke penjara, ke...
Orang di depanku masih tebahak. Tapi, seketika dia terdiam, matanya kembali tanpa emosi.
“Ada pertanyaan lagi?”
Aku menggeleng. Dia menatap ke wartawan di sampingku.
“Sekarang Anda.”
Terdengar barisan pertanyaan, tapi semua hanya pujian.
Aku penat, bingung akan laporanku nanti. Artikel apa yang harus kutulis?
“Hei!” suara si gendut memanggil. Kali ini jelas tertuju padaku, “menurut saudara sendiri, apa penyebabnya?”
Aku cuma bisa menggeleng pelan. Aku hanya bisa bergumam.
“Nggak tahu, Pak.”

0 komentar:

Posting Komentar