Jumat, 19 Februari 2010

Bahasa Indonesia

Saat penerimaan rapor semster satu kelas 8, aku sempat “...” dengan guru bahasa Indonesia karena aku hanya mendapat nilai KKM, 75. Aku merasa mampu mengikuti dalam pelajaran bahasa Indonesia tetapi mengapa nilaiku pas KKM? Kuakui Bapak Hasan Buchori memang pinter dan sudah pengalaman, sayangnya aku hanya diberi nilai pas.

Pak Hasan adalah tetanggaku. Semester dua ini aku masih diajar Pak Hasan. Kalau menerangkan sering diselingi humor membuatku terpingkal-pingkal. Pak Hasan kalau menurutku taat bergama dan suka kebersihan, suka ngomel, komen, lebih tepatnya memberi nasihat kalau melihat kelas kotor. “Ini kelasnya kotor sekali, mbak? Kemarin piket tidak?” inilah yang sering diucapkan.

Sekarang aku hanya tawakal. Terserah aku mau diberi nilai berapa. Tak peduli. Lagipula, kemampuanku tidak harus ditunjukkan dengan nilai kan? Aku sekolah bukan untuk mencari nilai, tapi mencari ilmu. Untuk apa kalau nilainya tinggi, tetapi tidak mendapat ilmu apa-apa. Yang terpenting dapat ilmunya, masalah nilai tawakal saja!

Aku senang bisa diajar Pak Hasan. Banyak ilmu yang aku dapatkan, tidak hanya ilmu bahasa Indonesia. Aku bisa tahu bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terima kasih ya Pak atas semua yang bapak berikan kepada kami.

salam SELEKETE!!

0 komentar:

Posting Komentar